Skip to content

Ayo, Baca!

April 19, 2010

Photo is courtesy of Maxdalena Wahyuningtyas and World Book Day Indonesia

Tahukah anda bahwa tanggal 23 April adalah hari buku sedunia? Mulai tahun 1995, Unesco menjadikan tanggal tersebut sebagai hari sakral bagi para pencinta buku sedunia. Nah, anda pun tidak boleh ketinggalan untuk merayakannya!

Langkah awal yang bisa anda lakukan adalah mengingatkan si buah hati betapa pentingnya arti buku bagi masa depannya. Ada sebuah pepatah lama yang berbunyi seperti ini, “Buku adalah jendela dunia.” Sebuah pepatah yang sederhana tapi memiliki makna yang begitu besar.

Buku memang jendela dunia, karena melalui buku kita bisa mendapatkan segudang ilmu berharga. Siapa bilang buku selalu berisian hal-hal serius? Melalui buku kita juga bisa mendapatkan hiburan loh. Hal sederhana seperti haruslah ditanamkan kepada anak-anak kita.

Bagaimana kalau hari buku dunia tersebut anda rayakan bersama keluarga? Wah, pasti akan seru! Anda harus segera pergi ke toko buku dan cari buku-buku bagus yang bisa dihadiahkan untuk anak-anak anda. Jangan beli komik, itu sudah biasa. Coba cari buku-buku yang sedikit lebih berbobot untuk si mungil, sesuai dengan usianya tentu.

Hadiahkan kepada mereka dan katakan, “Selamat hari buku dunia.”

Anda mungkin bisa mengajak anak anda menghadiri festival World Book Day Indonesia yang akan diselenggarakan mulai tanggal 23 April di Pasar Festival Kuningan dan Museum Bank Mandiri. Tema tahun ini sangat unik, yaitu “Kepergok Membaca”. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi http://www.kepergokmembaca.wordpress.com atau http://www.worldbookdayindonesia.com

Selamat membaca!

Baca, baca, dan baca terus!

April 15, 2010

Foto diambil dari sini.

Tahukah anda bahwa tepat tanggal 14 April kemarin majalah Bobo merayakan ulang tahunnya ke-37 tahun. Wow, waktu yang sangat lama untuk sebuah majalah anak-anak. Para pasangan muda yang sudah dikarunai anak mungkin mengalami masa-masa indah di mana si Bobo dan Bona selalu setia membuat anda tersenyum dan tertawa. Lucu sekali kalau mengingat masa itu, sekarang bacaan anda sudah berat mulai dari majalah politik hingga ekonomi.

Tapi kalau diingat-ingat lagi, mungkin majalah seperti Bobo itu yang pertama kali membuat anda terdorong untuk membaca dan terus membaca. Benar kan? Ingat ketika usia anda masih 6 tahun dan anda sangat gemar tiduran di lantai sambil sibuk membolak-balik halaman majalah Bobo. Mh, seru bukan? Coba tengok anak anda sekarang. Sudahkah ia gemar membaca? Kalau belum, mungkin sudah saatnya anda secara rutin membelikannya majalah atau buku anak-anak yang mendidik. Dari bacaan-bacaan sederhana seperti itu anak anda bisa membangun ketertarikannya untuk membaca.

Kalau sedang jalan-jalan ke mall, jangan lupa untuk sempatkan waktu anda sekeluarga untuk bermain di dalam toko buku. Anda tidak perlu harus selalu membeli, tapi biasakan si mungil berada di antara buku-buku. Mungkin awalnya ia akan bosan dan merengek minta pulang, tapi kesabaran anda pasti akan membuahkan hasilnya nanti.

Berikan pemahaman ke pada si buah hati bahwa membaca itu sangat seru dan asyik. Dia bisa berimajinasi apapun yang ia mau. Tapi awasi bacaanya, jangan biarkan dia membaca buku-buku yang belum pantas ia baca. Peran aktif orang tua sangat dibutuhkan dalam membentuk perilaku membaca seorang anak.

Setelah mengisi kamarnya dengan berbagai macam buku mendidik, tugas anda belum selesai. Luangkan waktu anda untuk membaca bersama dengannya atau minimal mengajaknya berdiskusi tentang hal-hal yang ia peroleh dari buku tersebut. Coba tanyakan tokoh karakter siapa saja yang ia baca dan bagaimana perilaku mereka? “Apakah mereka baik” “Apakah mereka jahat?”. Pada akhir diskusi jangan lupa memberikan kesimpulan positif yang ia bisa tanam dalam pikirannya, “Kesimpulannya, berbuat jahat itu tidak boleh karena merugikan orang lain. Kita juga tidak mau dirugikan kan?”

Jadi tunggu apa lagi? Beli buku dan mulai membaca!

Pack your bags and go

April 6, 2010

Picture was taken from here.

There are things money can’t buy. One of those things is your children’s happiness.

Have you ever wondered how much time you spend on working? Have you ever wondered that perhaps your kids miss your presence at home more than you think?

Working is not wrong. In fact it’s one of those important decisions that you need to make as a parent, you need to support your family obviously. But maybe you need to rethink the concept of working that you’ve had all this time. Maybe it’s best if you could spend more time with the loved ones at home, instead of just expanding your network outside all the time.

Perhaps, it’s also time for you to take your kids to some of the coolest places in Jakarta (Sorry, malls don’t get into the list right now). We have prepared a short list of attractions that you should consider going with your family:

1) Kota Tua: Who doesn’t know Kota Tua? For the past few years, this cultural and historical site has become a trendy location for the young to take some good pictures and just have fun with the history. But, we bet there are many who haven’t been there. If your family is one of them, shame on you. Start planning a trip very soon. This exotic place, pretty much well preserved is probably the city’s most exotic place.

2) The Ragunan Zoo: When was the last time you took your kids see the animals? Years ago, maybe? If that’s the case, you’re one irresponsible parent. No children in the whole world who don’t like going to the zoo. Yes, it’s very tiring to walk around within an outdoor attraction, but trust us, it’s worth it. Having fun at the zoo might be the best time you can have with the kids.

3) Taman Menteng: It’s no secret that most people in Jakarta haven’t been to this green zone. Although for a few years this place has become the best city park in Jakarta. Well, it’s not New York’s central park, but its existence in Jakarta is a sign how some people are starting to give a big attention to a greener life. You should take your children there and let they learn how a green movement is more than just a lifestyle, they have to live within it.

4) Salihara. Yes, it’s far and quite isolated. But if you’re smart enough to find a good event on the weekend, your kids will have a totally different kind of amusement. Look, at some point they’ll get bored with the city’s malls. Take them to learn something different, such as theatre, arts, and culture.

5) The busway! Almost all people in this city admit that they have tried this most-advanced transportation system in Jakarta (sadly not the world’s), but the truth is some are just too embarrassed to reveal that they always go around the city with their comfy car. Well, it’s time to take your kids feel something different. Set a family trip on a weekend, when the bus is not too crowded. Let the bus take you see all the city without macet.

Ready for some actions? Pack you bags kids, mom and dad are taking you to a journey you won’t forget.

Konser Koin untuk Anak

March 29, 2010

Hari minggu lalu menjadi saksi meriahnya acara Konser Koin untuk Anak yang diselenggarakan di Sekolah Cikal. Ramainya pengunjung menjadi bukti bahwa daya tarik acara ini benar-benar terasa. Tidak kurang dari 1000 orang datang berbondong-bondong untuk menyaksikan secara langsung penampilan dari para musisi ibukota.

Dari semua penampilan yang dihadirkan oleh panitia, tampaknya tidak berlebihan kalau penampilan Titi Dj and Family merupakan yang paling dinanti oleh para pengunjung. Begitu Titi Dj naik ke atas panggung dan menyapa, sontak para penonton langsung merengsek maju mendekati panggung. “Selamat sore penonton,” ujar Titi DJ dengan senyum lebar di wajahnya.

Penampilan Titi DJ kemarin sangat istimewa karena kali ini ia membawa seluruh personil dari keluarganya untuk menyanyi bersama. “Sebenarnya anak-anak saya sangat malu untuk menyanyi di depan orang banyak, tapi karena ini untuk membantu anak Indonesia maka mereka mau.”

Konser Koin untuk Anak memang merupakan sebuah kolaborasi musisi-musisi tanah air untuk seluruh anak Indonesia. Khusus untuk Konser kemarin di Sekolah Cikal, panitia menggalang dana untuk penyembuhan lima orang anak yang terbaring sakit di rumah sakit Cipto Mangunkusumo.

Menyanyikan lagu “A lot of love”, Titi Dj menyanyi bersama empat anak perempuannya. Suaminya Ovi bermain gitar, sementara kedua anak laki-lakinya bermain bass dan drum. Untuk lagu kedua “Balon Udara”, seluruh keluarga Titi Dj bernyanyi bersama.

Sesekali tampak Titi DJ mengajak anak-anaknya untuk tidak malu-malu berada di atas panggung. Tidak seperti ibunya, anak-anak ini masih belum terbiasa untuk tampil di hadapan orang banyak. Namun begitu, secara keseluruhan penampilan mereka patut diacungi jempol.

Tidak cuma Titi DJ yang menghibur penonton di Sekolah Cikal. Musisi terkenal lainnya juga tidak mau kalah. Hanya dengan membayar Rp 50,000 penonton dapat menyaksikan langsung penampilan dari Slank, Anang dan Syahrini, Numata, Marshanda, Gita Gutawa, The Titans, Five Minutes, Fadly Padi, Pee Wee Gaskins, Efek Rumah Kaca, Sania, Enno Lerian, Pandji Pragiwaksono, dan masih banyak lagi.

Serunya mereka menerapkan ilmu

March 26, 2010

Apa sih yang dibutuhkan oleh seorang anak untuk maju dan berkembang? Dengan segala macam teorinya, setiap pendidik pasti memiliki jawaban yang berbeda-beda. Setiap orangtua juga memiliki jawaban yang berbeda-beda. Apakah tujuan Anda mendidik anak selaras dengan tujuan pendidikan di sekolahnya?

Coba tengok anak anda setiap pagi hari. Tas punggungnya mungkin penuh dengan buku-buku tebal dan catatan-catatan teori. Pulang dari sekolah, mereka masih harus mengikuti berbagai macam les mulai dari les pelajaran, bahasa Inggris, hingga les piano. Di jaman yang semakin kompetitif seperti saat ini, di saat teknologi sudah begitu canggih, setiap anak dituntut untuk mampu mengerjakan berbagai macam hal dengan baik.

Dengan itu semua apakah anda yakin anak anda mampu menjadi pribadi yang sukses di masa depan? sekali lagi, apa yang menurut Anda dibutuhkan untuk kesuksesan di masa depan?

Di Sekolah Cikal kami percaya bahwa tujuan pendidikan adalah mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak. Sebutkan 5 stars competency — yang nantinya akan membuat mereka memiliki keterampilan hidup dan terus menerus menjadi pembelajar sejati.

Dalam dunia pendidikan, cara termudah untuk mengenali tujuan suatu sekolah, adalah dengan melihat bentuk ujian akhir yang diberikan pada siswanya. Sesuai prinsip backward design, maka semua proses belajar di kelas seharusnya dirancang untuk mencapai tujuan tersebut.

Contohnya murid year 6 kami (6 SD). Kami percaya bahwa semua teori dan hapalan di dalam kelas akan menjadi percuma apabila para murid tidak diajak keluar dan mempraktekan langsung ilmu mereka.

“Langkah yang kami ambil merupakan sebuah terobosan di dalam dunia pendidikan,” ujar koordinatoy Primary Year Program (PYP) di Sekolah Cikal Pia Adiprima.

Pia menjelaskan bahwa sebelum lulus, setiap anak kelas 6 harus membuat sebuah project terlebih dahulu. Mereka harus turun ke lapangan dan mencoba untuk memberikan solusi terhadap berbagai macam masalah di masyarakat yang dihadapi.

Pada tahun ajaran 2009/2010 ini, Sekolah Cikal menetapkan tema kemiskinan sebagai fokus dari project akhir murid, dan para murid kelas 6 memilih desa Ciwalu di Bogor sebagai objek penelitian. Para murid kelas 6 tersebut terbagi ke dalam empat kelompok yang harus mereka pilih sesuai minat mereka. Keempat kelompok tersebut adalah health, environment, education, dan economy. Pemilihan kelompok dilakukan setelah mereka melakukan riset terlebih dahulu mengenai setiap topik pada exhibition.

“Aku memilih ‘health’ karena menurut aku banyak masyarakat Indonesia yang mengalami masalah di bidang kesehatan,” ucap salah seorang murid Raihan Raafi yang berusia 11 tahun.

Masing-masing kelompok harus mampu menganalisa masalah yang dihadapi oleh masyarakat di desa Ciwalu berdasarkan kategori yang telah dipilih kemudian membantu masyarakat desa memperbaikinya. Di bawah bimbingan guru, setiap kelompok harus melewati proses pemetaan inquiry dan skills yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.

Tim environment, misalnya, memberikan penyuluhan mengenai pengelolaan sampah kepada murid SD dan juga masyarakat luas di daerah tersebut. Selain itu mereka juga membagikan tempat sampah berjumlah lebih dari 15 unit.

Nadira Anisa, 11, berujar bahwa pada awalnya masyarakat desa Ciwalu, khususnya yang dewasa, kaget ketika mereka mendapatkan penyuluhan dari murid-murid SD.

“Biasanya yang memberikan penyuluhan kepada mereka minimal setingkat SMA,” kata Nadira.
Nadira yang bersama teman-teman satu kelompoknya menganalisa masalah kesehatan di desa Ciwalu mengatakan bahwa masyarakat di desa Ciwalu tidak memiliki konsep kesehatan yang baik.

Ia mencontohkan bahwa kebanyakan dari mereka tidak memiliki budaya mencuci tangan setiap sebelum makan. “Kita mengajarkan mereka bahwa tindakan sesederhana seperti mencuci makan bisa menjadi senjata yang sangat efektif untuk melawan berbagai macam penyakit.”

Selain memberikan penyuluhan dan menempel poster-poster yang berisikan ajakan untuk hidup sehat, Nadira dan kelompoknya juga membagikan alat-alat kebersihan seperti sabun dan pasta gigi. Anggota lain dari tim health Fiandra Azzahra menjelaskan bahwa masyarakat Ciwalu memiliki banyak masalah kesehatan yang harus segera diubah seperti kebiasaan mereka yang selalu membeli obat seadanya di warung terdekat.

“Sangat disayangkan bahwa lokasi puskesmas terlalu jauh dari rumah mereka.” Sementara itu Deandra Fidelia dari kelompok economy menjelaskan dengan bersemangat bahwa masyarakat Ciwalu harus mampu meningkatkan kemampuan ekonomi mereka secara signifikan sehingga kesejahteraan lebih terjamin.

“Mereka terlalu bergantung kepada pihak lain,” kata Deandra. Ia menyayangkan kondisi tersebut karena sebetulnya masyarakat Ciwalu memiliki potensi alam yang sangat besar.

Ia kemudian memperlihatkan berbagai macam produk olahan mulai dari selai nanas, teh hijau, dan kapulaga yang diproduksi oleh masyarakat Ciwalu. “Kapulaga bisa digunakan sebagai bahan dasar untuk membuat minyak goreng dan minyak telon,” Deandra menjelaskan.

Alisa Namira Imani dari kelompok education menjelaskan ia dan timnya awalnya memutuskan untuk membuat poster-poster yang menjelaskan betapa pentingnya pendidikan dan sekolah. “Banyak anak di desa Ciwalu yang malas untuk bersekolah.”

Ia menambahkan bahwa anak-anak tersebut harus memiliki tujuan yang jelas dalam bersekolah. “Kalau tidak begitu percuma.” Alisa dan teman-teman mengajarkan berbagai macam gaya belajar kepada murid-murid kelas satu di desa Ciwalu. Grup pendidikan memberikan beberapa alat pendidikan seperti permainan matematika dan alfabet yang dapat membantu mereka dalam belajar membaca.

“I think our action would be useful in the future. The students would feel enthusiastic to go to school and the resources can be used in the school.”

Pia selaku koordinator PYP mengaku bangga atas prestasi yang telah dicapai oleh murid didiknya. “Mereka sangat kreatif dalam mengamati masalah dan kemudian memikirkan dan mengambil aksi untuk memberi solusi.”

Ia menambahkan, “Sangat luar biasa mengingat usia mereka yang masih sangat belia. Melihat hasil mereka, saya sangat yakin bahwa mereka akan mampu memecahkan berbagai masalah nyata dalam kehidupan masyarakat di masa depan, dan inilah tujuan pendidikan di sekolah Cikal”.

An Inspirational Figure

March 11, 2010

The Steady Hand of a Doctor’s Courage
Taken from the Jakarta Globe

in late February 2001, a young fisherman from Pelabuhan Merak, West Java, arrived in Jakarta in dire need of a neurosurgeon.

Ardiansyah, with both his arms and legs paralyzed, was brought to the capital in a car borrowed from a neighbor and driven by his brother. When he arrived in Jakarta he was in critical condition. To Ardiansyah, every breath he took felt like it could be his last.

An MRI scan revealed that Ardiansyah had a potentially lethal cavernoma in the pons region of his brainstem. A cavernoma, which is made up of multiple little bubbles of various sizes, filled with blood and lined by a special layer of cells that resemble a small bunch of berries, can range in size from microscopic to inches in diameter. They can cause seizures, stroke symptoms and hemorrhages.

The pons is a 2.5-centimeter-long organ inside every human brain consisting of soft vital cables that relay functions to the body. Its existence is so crucial that if someone’s pons is dysfunctional, experts in the medical field consider them dead.

In his biography, “Tinta Emas di Kanvas Dunia” (“Golden Ink on the World’s Canvas”), neurosurgeon Eka Julianta Wahjoepramono talks about his encounter with Ardiansyah and the race to save the fisherman’s life. Eka tells himself that even though he has never touched or even seen a pons, if he does not perform this lifesaving surgery Ardiansyah will die.

In an interview with the Jakarta Globe, biographer Pitan Daslani said that Eka’s story, his ability to overcome and defy expectations, was a perfect example for all young Indonesians.

“Eka came from a poor family, but he never gave up his dream of being a successful neurosurgeon,” Pitan said.

Eka, the oldest of five children, was born Tjioe Tjay Kian on July 27, 1958, in Klaten, a small city in Central Java. A government ban on the use of Chinese names forced his family to change his name to Eka in 1965.

Eka, the current dean of the School of Medicine at Pelita Harapan University, grew up in a simple household, but he knew from a young age that he was destined for the world of medicine.

In high school, Eka leaned toward subjects like biology and chemistry.

After being rejected by several universities, Eka settled in at Diponegoro University in Semarang, Central Java, where he spent six years training to be a doctor before moving on to pursue his specialization in neurosurgery at Padjadjaran University in Bandung.

Eka talks in the biography of the battle to control his nerves as he prepared for Ardiansyah’s life-or-death surgery.

He read through countless reference book and articles regarding the type of surgery he was about to perform, and consulted with other neurosurgeons before stepping into the operating room.

The operation went seamlessly and was over in four hours. Eka watched nervously over his patient, and was relieved when, 10 days after the surgery, Ardiansyah was able to return home. Later tests showed the cavernoma had been completely removed.

“After a while I realized that this type of operation was rare not only in Indonesia, but also the world,” Eka told Kompas.com at the launch of the biography on Feb. 25.

Pitan said that before Eka’s attempt to save Ardiansyah’s life, pons surgery was uncharted waters. “No other surgeons had the courage to touch it,” he said.

Since that groundbreaking operation in 2001, Eka has performed 13 similar surgeries, with a 100 percent success rate.

As a result of his advancements in the world of pons surgery, Eka began to receive invitations from universities and medical institutions from around the world that wanted him to share his experience and expertise.

In November 2007, Yong Kwang Tu, Taiwan’s top neurosurgeon, invited Eka to serve as a visiting professor at Taiwan National University.

Yong said he wanted young people in Taiwan to be able to see and listen to Eka’s story and his subsequent rise to the forefront of neurosurgery.

Eka has also been invited to serve as a visiting professor at Taipei Medical University, the University of Melbourne, the University of Toronto, Tokyo Women’s Medical University and Harvard University.

“He was the first Asian visiting professor to teach at the School of Medicine at Harvard University,” Pitan said.

He said that it was important for all Indonesians to hear Eka’s story of struggle and achievement.

“Most of us are proud telling success stories about people from other countries,” he said.

According to Pitan, Eka’s modesty and sincerity, along with his professional success, make him role model for young Indonesians.

“He admits when he’s wrong,” the biographer said.

Pitan said that Eka always puts human life above everything else, including administration.

He said that he had seen numerous cases where hospitals calmly delayed a surgery until the patient had paid the administration fees.

“Eka doesn’t care whether his patient is rich or poor. For him the treatment comes first,” Pitan said.

Memilih tas punggung yang tepat

March 3, 2010
Sadarkah anda bahwa terkadang tas punggung si buah hati sangatlah berat? Penelitian dari American Academy of Orthopaedics Surgeons (AAOS) menyebutkan bahwa tas punggung yang terlalu berat memberi sakit kepada tulang punggung dan pundak, sehingga mengakibatkan otot sakit dan kaku.
AAOS merekomendasikan bahwa berat maksimum dari tas punggung tidak boleh melebihi 15-20% dari berat badan seorang anak. Misalnya anak yang beratnya 40 kg harus membawa tas punggung tidak lebih dari 8 kg.
Untuk mencegah terjadinya rasa sakit, maka ada beberapa tips yang patut diikuti:
1) Gunakan tas punggung yang memiliki strap yang lebar
2) Kencangkan tali strap sesuai dengan kebutuhan
3) Tempatkan barang yang lebih berat mendekati punggung
4) Ada baiknya membeli tas punggung yang ada rodanya